Prediabetes: Batas Gula Darah dan Cara Mencegah Diabetes Tipe 2
INFAKTUAL.COM – Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula darah sudah lebih tinggi dari normal, tetapi belum mencapai batas diagnosis diabetes tipe 2. Kondisi ini penting dikenali karena meningkatkan risiko diabetes tipe 2 serta penyakit kardiovaskular.
Namun, prediabetes sering tidak memberikan gejala yang jelas. CDC menyebut seseorang dapat mengalaminya selama bertahun-tahun tanpa mengetahui kondisinya.
Karena itu, pemeriksaan gula darah memainkan peran lebih besar daripada menunggu munculnya gejala.
Berapa Batas Gula Darah Prediabetes?
ADA menggunakan tiga rentang pemeriksaan utama untuk menentukan prediabetes.
HbA1c 5,7–6,4 persen masuk kategori prediabetes. Selain itu, gula darah puasa 100–125 mg/dL dan hasil OGTT dua jam 140–199 mg/dL juga termasuk rentang prediabetes.
Sebaliknya, HbA1c ≥6,5 persen, gula darah puasa ≥126 mg/dL, atau OGTT dua jam ≥200 mg/dL memenuhi kriteria diabetes.
Diagnosis dan interpretasi tetap sebaiknya dilakukan tenaga kesehatan.
Prediabetes Sering Tidak Memiliki Gejala
Salah satu persoalan utama adalah prediabetes umumnya tidak memberikan tanda yang khas.
ADA menyebut tidak terdapat gejala jelas pada sebagian besar orang dengan prediabetes. CDC juga menyatakan kondisi tersebut dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa diketahui.
Oleh karena itu, seseorang dapat merasa sehat tetapi memiliki gula darah yang sudah berada di atas rentang normal.
Siapa yang Lebih Berisiko?
CDC mencantumkan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan prediabetes, termasuk usia 45 tahun atau lebih, riwayat keluarga diabetes tipe 2, kurang aktif secara fisik, riwayat diabetes gestasional, dan polycystic ovary syndrome atau PCOS.
Selain itu, kelebihan berat badan pada orang dewasa menjadi salah satu faktor yang digunakan dalam penilaian risiko.
Namun, keberadaan satu faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami prediabetes. Pemeriksaan tetap diperlukan.
Prediabetes Tidak Selalu Berakhir Menjadi Diabetes
Kabar pentingnya, prediabetes tidak otomatis berarti seseorang pasti akan mengalami diabetes tipe 2.
ADA menyatakan perubahan sejak dini pada sebagian orang dapat mengembalikan kadar gula ke rentang normal.
Selain itu, penelitian Diabetes Prevention Program menunjukkan intervensi gaya hidup dapat secara substansial mengurangi kejadian diabetes tipe 2 pada orang berisiko tinggi.
Aktivitas Fisik Menjadi Strategi Penting
CDC menggunakan target sedikitnya 150 menit aktivitas seperti jalan cepat per minggu dalam program pencegahan diabetes untuk orang dewasa dengan prediabetes.
NIDDK juga menyarankan peningkatan aktivitas secara bertahap hingga sekitar 30 menit pada lima hari dalam seminggu bagi orang dewasa yang sesuai secara medis.
Namun, jenis dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kemampuan fisik, kehamilan, disabilitas, atau penyakit penyerta.
Pola Makan Sehat Lebih Penting daripada Diet Ekstrem
Pencegahan diabetes tipe 2 tidak membutuhkan pola makan ekstrem.
WHO menyebut pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, menjaga berat badan sehat, serta menghindari penggunaan tembakau sebagai strategi untuk mencegah atau menunda diabetes tipe 2.
Selain itu, Kementerian Kesehatan mendorong peningkatan konsumsi sayur dan buah serta pembatasan gula, garam, dan lemak.
Karena itu, perubahan kecil yang dapat dipertahankan lebih relevan dibandingkan pola makan sangat ketat yang sulit dilakukan dalam jangka panjang.
Tentang Penurunan Berat Badan pada Prediabetes
Dalam program pencegahan diabetes pada orang dewasa dengan overweight atau obesitas, penelitian DPP menggunakan target penurunan berat sekitar 5–7 persen disertai aktivitas fisik sekitar 150 menit per minggu. Intervensi tersebut menurunkan kejadian diabetes tipe 2 sekitar 58 persen selama studi awal.
Namun, target tersebut bukan rekomendasi untuk anak atau remaja melakukan penurunan berat badan sendiri. Pada kelompok usia yang masih bertumbuh, perubahan berat badan dan pola makan perlu dinilai oleh dokter atau tenaga kesehatan agar kebutuhan pertumbuhan tetap terpenuhi.
Selain itu, tujuan pencegahan tidak semestinya berfokus pada bentuk tubuh, melainkan kesehatan metabolik, aktivitas, pola makan, dan hasil pemeriksaan.
Perlukah Obat untuk Prediabetes?
Tidak semua orang dengan prediabetes membutuhkan obat.
NIDDK menjelaskan pencegahan atau penundaan diabetes tipe 2 dapat melibatkan perubahan berat badan pada orang dewasa yang sesuai, peningkatan aktivitas fisik, dan pada kondisi tertentu obat seperti metformin berdasarkan penilaian klinis.
Karena itu, penggunaan obat tidak boleh dimulai sendiri hanya berdasarkan angka gula darah.
Seberapa Sering Perlu Diperiksa?
ADA menyebut orang dengan prediabetes perlu menjalani pemeriksaan diabetes tipe 2 secara berkala, dengan halaman edukasinya menyebut rentang sekitar satu hingga dua tahun.
Namun, dokter dapat menentukan jadwal berbeda berdasarkan hasil pemeriksaan, usia, riwayat keluarga, kehamilan, obat, maupun kondisi kesehatan lainnya.
Prediabetes Adalah Kesempatan untuk Bertindak Lebih Awal
Pada akhirnya, prediabetes bukan diagnosis yang sebaiknya diabaikan, tetapi juga bukan kepastian bahwa diabetes tipe 2 akan terjadi.
Perubahan aktivitas, pola makan yang seimbang, pemeriksaan rutin, dan penanganan faktor risiko dapat membantu mengurangi peluang perkembangan penyakit.
Karena prediabetes sering tanpa gejala, pemeriksaan menjadi kunci untuk mengetahuinya.
Sumber eksternal: CDC – Prediabetes, ADA – Diabetes Diagnosis, NIDDK – Preventing Type 2 Diabetes, WHO – Diabetes.














