Diabetes: Gejala, Penyebab, Faktor Risiko dan Cara Mencegahnya
INFAKTUAL.COM – Diabetes menjadi salah satu penyakit tidak menular yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 11,7 persen, meningkat dari 10,9 persen pada Riskesdas 2018. Dalam jumlah absolut, BKPK menyebut lebih dari 20 juta penduduk Indonesia hidup dengan diabetes.
Selain itu, IDF Diabetes Atlas 2025 memperkirakan sekitar 20,4 juta orang dewasa berusia 20–79 tahun di Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024. Indonesia bahkan menempati urutan kelima dunia dalam jumlah orang dewasa dengan diabetes menurut estimasi tersebut.
Namun, diabetes tidak selalu langsung menimbulkan keluhan yang jelas. Pada diabetes tipe 2, gejalanya dapat ringan dan berkembang selama bertahun-tahun sehingga seseorang bisa baru mengetahui penyakitnya setelah menjalani pemeriksaan atau ketika komplikasi mulai muncul.
Apa Itu Diabetes?
Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif. Insulin merupakan hormon yang berperan mengatur kadar glukosa dalam darah.
Ketika mekanisme tersebut terganggu, kadar gula darah dapat meningkat. Kondisi gula darah tinggi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat merusak berbagai sistem tubuh, terutama pembuluh darah dan saraf.
Selain itu, diabetes bukan hanya satu jenis penyakit. Secara umum, diabetes mencakup diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, serta diabetes gestasional yang muncul pada masa kehamilan.
Mengapa Tubuh Membutuhkan Insulin?
Setelah seseorang mengonsumsi makanan, sebagian zat gizi akan diolah menjadi glukosa yang kemudian beredar dalam darah sebagai salah satu sumber energi tubuh.
Insulin membantu tubuh menggunakan glukosa tersebut dengan baik. Namun, ketika produksi insulin sangat kurang atau tubuh tidak merespons insulin secara efektif, glukosa dapat menumpuk di dalam darah.
Akibatnya, kadar gula darah berada di atas batas yang sehat dan, apabila berlangsung lama, meningkatkan risiko kerusakan berbagai organ.
Gejala Diabetes yang Perlu Dikenali
Gejala diabetes dapat berbeda pada setiap orang. Bahkan, sebagian penderita diabetes tipe 2 dapat mengalami gejala yang sangat ringan sehingga tidak menyadarinya selama beberapa tahun.
Menurut WHO dan Kementerian Kesehatan, beberapa gejala diabetes yang umum antara lain:
- sering merasa haus;
- lebih sering buang air kecil;
- mudah merasa lapar;
- berat badan turun tanpa penyebab yang jelas;
- tubuh mudah lelah;
- pandangan kabur;
- luka lebih sulit sembuh;
- serta keluhan kesemutan pada sebagian penderita.
Namun, munculnya salah satu gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang menderita diabetes. Pemeriksaan gula darah oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan diagnosis. WHO menekankan bahwa deteksi dini dilakukan melalui pemeriksaan darah dan evaluasi oleh penyedia layanan kesehatan.
Sering Haus dan Sering Buang Air Kecil
Sering merasa haus dan peningkatan frekuensi buang air kecil merupakan dua keluhan klasik yang dapat muncul ketika kadar gula darah terlalu tinggi.
Kementerian Kesehatan memasukkan sering buang air kecil, cepat merasa lapar, serta sering merasa haus sebagai gejala utama diabetes melitus.
Meskipun demikian, keluhan tersebut juga dapat memiliki penyebab lain. Karena itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan sebelum menyimpulkan seseorang mengalami diabetes.
Berat Badan Turun Tanpa Sebab
Penurunan berat badan yang tidak direncanakan juga dapat muncul pada diabetes, terutama ketika tubuh kesulitan menggunakan glukosa secara efektif sebagai sumber energi.
WHO memasukkan penurunan berat badan tanpa disengaja sebagai salah satu gejala diabetes. Kementerian Kesehatan juga menyebut berat badan yang turun cepat tanpa penyebab jelas sebagai gejala tambahan yang perlu diperhatikan.
Namun, penurunan berat badan tanpa sebab juga dapat berhubungan dengan berbagai kondisi medis lain. Oleh sebab itu, pemeriksaan dokter penting apabila perubahan berat badan terjadi tanpa penjelasan yang jelas.
Luka Sulit Sembuh dan Kesemutan
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat memengaruhi pembuluh darah dan saraf. WHO menyebut diabetes dapat menimbulkan gangguan saraf serta masalah pada kaki akibat kombinasi kerusakan saraf dan gangguan aliran darah.
Selain itu, Kementerian Kesehatan mencantumkan kesemutan dan luka yang sulit sembuh sebagai gejala tambahan diabetes yang dapat ditemukan pada sebagian penderita.
Karena itu, luka yang tidak kunjung membaik, terutama pada kaki, sebaiknya tidak diabaikan.
Jenis Diabetes yang Perlu Diketahui
Diabetes tidak dapat diperlakukan sebagai satu kondisi yang sama. Mekanisme, faktor risiko, serta penanganannya dapat berbeda menurut jenis penyakit.
WHO membagi diabetes antara lain menjadi diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional.
Diabetes Tipe 1
Diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan produksi insulin. Orang dengan diabetes tipe 1 memerlukan insulin untuk bertahan hidup.
Berbeda dengan diabetes tipe 2, diabetes tipe 1 bukan kondisi yang dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup yang saat ini diketahui. WHO menyatakan penyebab pasti serta cara pencegahannya belum diketahui.
Karena itu, diabetes tipe 1 tidak tepat dikaitkan semata-mata dengan kebiasaan mengonsumsi makanan manis.
Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak menggunakan insulin dengan baik sehingga kadar gula darah dapat meningkat apabila tidak dikendalikan. Jenis ini merupakan bentuk diabetes yang paling umum; WHO memperkirakan lebih dari 95 persen penderita diabetes berada dalam kelompok tipe 2.
Selain faktor genetik, kelebihan berat badan dan kurang aktivitas fisik termasuk faktor yang berkontribusi terhadap diabetes tipe 2. Namun, penyakit ini bersifat multifaktorial sehingga tidak tepat menyalahkan satu jenis makanan atau satu kebiasaan saja.
Selain itu, diabetes tipe 2 kini juga semakin ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda.
Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional merupakan kondisi peningkatan gula darah yang muncul selama kehamilan. Kondisi tersebut biasanya ditemukan melalui pemeriksaan selama kehamilan, bukan hanya berdasarkan gejala yang dirasakan.
WHO menjelaskan bahwa perempuan yang mengalami diabetes gestasional memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi selama kehamilan dan persalinan. Selain itu, mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Karena itu, pemeriksaan kehamilan rutin menjadi penting untuk mendeteksi kondisi tersebut.
Apa Penyebab Diabetes?
Penyebab diabetes bergantung pada jenisnya.
Pada diabetes tipe 1, tubuh mengalami kekurangan produksi insulin. Sementara itu, diabetes tipe 2 berkaitan dengan gangguan penggunaan insulin oleh tubuh dan dipengaruhi kombinasi faktor genetik serta faktor risiko metabolik dan gaya hidup.
Oleh karena itu, pernyataan bahwa diabetes hanya disebabkan “terlalu banyak makan gula” terlalu sederhana.
Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula dapat berkontribusi terhadap pola makan yang tidak sehat serta kenaikan berat badan. Namun, risiko diabetes tipe 2 juga dipengaruhi aktivitas fisik, berat badan, faktor genetik, usia, serta kondisi kesehatan lainnya.
Faktor Risiko Diabetes Tipe 2
Beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami diabetes tipe 2.
WHO menyebut kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, dan faktor genetik sebagai faktor penting yang berkontribusi terhadap penyakit ini.
Selain itu, pola hidup modern membuat faktor metabolik semakin menjadi perhatian di Indonesia. SKI 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Namun, memiliki faktor risiko bukan berarti seseorang pasti akan mengalami diabetes. Sebaliknya, seseorang juga dapat memiliki diabetes tanpa menyadari gejalanya.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan berperan penting untuk mendeteksi kondisi tersebut lebih awal.
Diabetes Bisa Tidak Menimbulkan Gejala Jelas
Salah satu tantangan utama diabetes tipe 2 adalah sifatnya yang dapat berkembang perlahan.
WHO menjelaskan gejala diabetes tipe 2 sering kali ringan dan membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum terlihat. Akibatnya, sebagian orang baru didiagnosis setelah penyakit telah berkembang atau komplikasi mulai muncul.
Selain itu, data SKI memperlihatkan adanya perbedaan antara jumlah diabetes yang teridentifikasi melalui pemeriksaan gula darah dan berdasarkan diagnosis dokter.
SKI 2023 mencatat prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia ≥15 tahun sebesar sekitar 2,2 persen. Sementara itu, prevalensi berdasarkan pemeriksaan gula darah pada kelompok usia tersebut mencapai 11,7 persen.
Perbedaan tersebut memperlihatkan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan, bukan hanya menunggu munculnya keluhan.
Bagaimana Diabetes Didiagnosis?
Diagnosis diabetes tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan gejala atau menggunakan informasi dari internet.
WHO menyatakan diagnosis dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan glukosa darah. Pada praktik klinis, tenaga kesehatan akan menentukan jenis pemeriksaan yang sesuai berdasarkan kondisi individu.
Karena itu, orang yang memiliki gejala atau faktor risiko sebaiknya berkonsultasi ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat.
Selain itu, hasil pemeriksaan mandiri menggunakan alat pengukur gula darah dapat membantu pemantauan dalam situasi tertentu, tetapi diagnosis dan keputusan terapi tetap perlu melibatkan tenaga kesehatan.
Komplikasi Diabetes Bila Tidak Terkontrol
Diabetes yang tidak terkendali dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ.
WHO menyebut diabetes dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, serangan jantung, stroke, gagal ginjal, kerusakan mata, gangguan saraf, ulkus kaki, hingga amputasi pada kondisi berat.
Selain itu, CDC mencatat diabetes dapat memengaruhi jantung, ginjal, saraf, kaki dan berbagai sistem tubuh lainnya. Pemeriksaan rutin dan pengelolaan penyakit diperlukan untuk membantu mencegah atau menunda komplikasi.
Gangguan Mata
Diabetes dapat merusak pembuluh darah kecil pada mata dan menyebabkan retinopati diabetik. Apabila tidak ditangani, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan penglihatan bahkan kehilangan penglihatan permanen.
Karena itu, WHO memasukkan pemeriksaan mata sebagai salah satu bagian penting dalam pemantauan komplikasi pada orang dengan diabetes.
Gangguan Ginjal
Ginjal juga menjadi salah satu organ yang dapat mengalami komplikasi akibat diabetes.
WHO mencatat diabetes dapat menyebabkan gagal ginjal, sementara penyakit ginjal akibat diabetes turut menyumbang beban kematian global.
Karena itu, orang yang telah didiagnosis diabetes perlu mengikuti jadwal pemeriksaan dan pengobatan yang ditentukan tenaga kesehatan.
Masalah pada Saraf dan Kaki
Diabetes dapat menimbulkan kerusakan saraf serta mengganggu aliran darah, terutama pada bagian kaki.
Akibatnya, luka dapat berkembang menjadi ulkus dan pada kondisi berat dapat berujung pada amputasi.
Oleh karena itu, perawatan kaki dan pemeriksaan luka menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes.
Bisakah Diabetes Dicegah?
Jawabannya perlu dibedakan berdasarkan jenis diabetes.
Untuk diabetes tipe 1, WHO menyatakan saat ini belum diketahui cara pencegahannya. Sebaliknya, diabetes tipe 2 dalam banyak kasus dapat dicegah atau setidaknya ditunda melalui perubahan gaya hidup.
WHO merekomendasikan mempertahankan berat badan yang sehat, rutin melakukan aktivitas fisik, menerapkan pola makan sehat, serta menghindari penggunaan tembakau sebagai langkah untuk mencegah atau menunda diabetes tipe 2.
Rutin Bergerak
Aktivitas fisik menjadi salah satu langkah utama dalam pencegahan diabetes tipe 2.
WHO merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu sebagai bagian dari upaya pencegahan diabetes tipe 2.
Selain itu, data SKI 2023 menunjukkan 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas belum melakukan aktivitas fisik yang cukup. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pencegahan penyakit tidak menular.
Terapkan Pola Makan Sehat
Pola makan sehat merupakan komponen penting dalam mencegah diabetes tipe 2 dan menjaga kesehatan metabolik.
WHO menganjurkan pola makan sehat serta membatasi konsumsi gula dan lemak jenuh.
Selain itu, pembaca Infaktual dapat melihat artikel Waspada Lonjakan Gula Darah Pasca Lebaran sebagai referensi internal mengenai pengendalian pola makan bagi orang yang perlu menjaga gula darah.
Namun, pengaturan pola makan bagi orang yang sudah didiagnosis diabetes sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing bersama tenaga kesehatan atau ahli gizi.
Apakah Penderita Diabetes Harus Menghindari Semua Makanan Manis?
Tidak tepat menyederhanakan pengelolaan diabetes menjadi larangan total terhadap satu jenis makanan.
Pengelolaan diabetes melibatkan keseluruhan pola makan, aktivitas fisik, berat badan, pemantauan gula darah, serta obat apabila diperlukan. WHO menyatakan beberapa penderita diabetes tipe 2 membutuhkan obat atau insulin untuk membantu mengendalikan gula darah.
Selain itu, kebutuhan nutrisi setiap orang dapat berbeda.
Karena itu, penderita diabetes sebaiknya tidak menghentikan obat, mengubah dosis, atau menerapkan diet ekstrem hanya berdasarkan informasi yang dibaca secara daring.
Diabetes Dapat Dikendalikan
Meskipun merupakan penyakit kronis, diabetes dapat dikelola.
WHO menyatakan dampak diabetes dapat dicegah atau ditunda melalui pola makan, aktivitas fisik, pengobatan, serta pemeriksaan rutin terhadap kemungkinan komplikasi.
Pada diabetes tipe 1, insulin diperlukan untuk bertahan hidup. Sementara itu, penanganan diabetes tipe 2 dapat melibatkan perubahan gaya hidup, obat penurun gula darah, dan pada sebagian pasien insulin sesuai penilaian tenaga kesehatan.
Selain mengendalikan gula darah, dokter juga dapat menangani faktor risiko lain seperti tekanan darah dan kolesterol untuk mengurangi risiko komplikasi.
Kapan Perlu Memeriksakan Gula Darah?
Pemeriksaan layak dipertimbangkan ketika seseorang mengalami gejala yang mengarah pada diabetes, memiliki faktor risiko, atau mendapat rekomendasi pemeriksaan dari tenaga kesehatan.
Terlebih lagi, diabetes tipe 2 dapat berkembang tanpa gejala yang mencolok. WHO menyebut pemeriksaan berkala dan tes darah oleh tenaga kesehatan sebagai cara terbaik untuk mendeteksi diabetes tipe 2 lebih dini.
Di Indonesia, pemerintah juga memperluas deteksi penyakit tidak menular melalui program Cek Kesehatan Gratis. Data Kementerian Kesehatan pada Juni 2025 menemukan diabetes pada 5,9 persen peserta yang telah mengikuti program saat itu; angka tersebut merupakan temuan pada peserta program dan bukan estimasi prevalensi seluruh penduduk Indonesia.
Diabetes Menjadi Tantangan Besar di Indonesia
Data terbaru memperlihatkan skala masalah diabetes di Indonesia.
SKI 2023 mencatat prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia ≥15 tahun sebesar 11,7 persen. Sementara itu, BKPK Kementerian Kesehatan pada Agustus 2026 menyebut jumlah absolutnya telah mencapai lebih dari 20 juta orang.
Selain itu, IDF Diabetes Atlas 2025 memperkirakan terdapat sekitar 20,4 juta orang dewasa usia 20–79 tahun dengan diabetes di Indonesia pada 2024. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 28,6 juta pada 2050 apabila tren yang mendasari proyeksi tersebut berlanjut.
Namun, angka proyeksi bukan kepastian. Kebijakan kesehatan, deteksi dini, perubahan pola hidup, serta akses pengobatan dapat memengaruhi perkembangan beban diabetes pada masa depan.
Mengenali Gejala Diabetes Bukan Pengganti Pemeriksaan
Pada akhirnya, mengenali gejala diabetes merupakan langkah awal, bukan cara untuk mendiagnosis penyakit secara mandiri.
Sering haus, sering buang air kecil, cepat lapar, penurunan berat badan tanpa sebab, kelelahan, pandangan kabur, kesemutan, dan luka sulit sembuh merupakan tanda yang patut diperhatikan. Namun, diagnosis diabetes tetap membutuhkan pemeriksaan kesehatan.
Selain itu, tidak semua penderita diabetes tipe 2 menunjukkan gejala yang jelas. Oleh sebab itu, pemeriksaan gula darah menjadi penting bagi orang yang memiliki faktor risiko maupun mereka yang memperoleh rekomendasi skrining dari tenaga kesehatan.
Mengenai pencegahan, fokus utama untuk diabetes tipe 2 adalah pola hidup sehat yang realistis dan berkelanjutan: bergerak secara teratur, menjaga berat badan yang sehat, menerapkan pola makan seimbang, tidak merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.
Sumber dan Referensi
Sumber eksternal:
- WHO – Diabetes Fact Sheet
- BKPK Kementerian Kesehatan – Kebijakan Nutri-Level dan Kesehatan Preventif Indonesia
- BKPK Kemenkes – Hasil Utama Survei Kesehatan Indonesia 2023
- Kementerian Kesehatan – Mengenal Gejala Diabetes Melitus
- IDF Diabetes Atlas – Indonesia
- CDC – Diabetes Complications
Internal link Infaktual:













