Zakat Fitrah Uang atau Beras? Simak Mana yang Lebih Utama Menurut Ulama
infaktual.com – Mendekati hari raya Idulfitri 1447 H yang jatuh pada Maret 2026 ini, umat Muslim mulai sibuk menunaikan kewajiban zakat fitrah. Namun demikian, muncul satu pertanyaan klasik yang selalu terulang setiap tahun: “Lebih baik bayar zakat fitrah pakai uang atau beras?”
Sebenarnya, kedua cara tersebut memiliki landasan hukum yang kuat dalam Islam. Meskipun begitu, Anda perlu memahami perbedaan sudut pandang para ulama agar ibadah Anda terasa lebih mantap dan penuh keyakinan. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu pembahasannya dalam artikel ini.
Membayar Zakat dengan Beras (Makanan Pokok)
Secara historis, Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok. Di zaman Nabi, pilihannya adalah gandum atau kurma. Selanjutnya, karena kita tinggal di Indonesia, maka makanan pokok yang kita gunakan adalah beras.
Kelebihan Membayar dengan Beras:
Sesuai Sunnah Asli: Mayoritas ulama (Syafii, Maliki, dan Hambali) mewajibkan zakat dalam bentuk makanan pokok karena sesuai dengan praktik langsung di zaman Nabi.
Kepastian Kualitas: Anda bisa memastikan secara langsung bahwa beras yang Anda berikan adalah beras yang layak konsumsi dan berkualitas baik.
Simbol Ketahanan Pangan: Zakat beras secara langsung membantu ketersediaan pangan bagi kaum dhuafa untuk menyambut hari raya.
Namun, pastikan Anda memberikan minimal 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa sesuai ketentuan yang berlaku.
Membayar Zakat dengan Uang (Nilai Harga)
Di sisi lain, Madzhab Hanafi memperbolehkan umat Muslim membayar zakat fitrah menggunakan uang (qimah). Alasan utamanya adalah untuk memberikan kemaslahatan dan fleksibilitas bagi penerimanya.
Mengapa Memilih Uang?
Lebih Praktis: Anda bisa menyalurkan zakat dengan lebih mudah, terutama melalui transfer bank atau aplikasi digital saat Anda sedang dalam perjalanan mudik.
Fleksibilitas bagi Penerima: Terkadang, fakir miskin lebih membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan mendesak selain beras, seperti lauk-pauk, obat-obatan, atau biaya transportasi.
Efisien dalam Penyaluran: Lembaga amil zakat seperti BAZNAS dapat mengelola uang tersebut dengan lebih fleksibel untuk membantu mustahik secara merata.
Sebagai catatan, untuk tahun 2026, BAZNAS menetapkan nilai uang tunai setara dengan Rp50.000 per jiwa untuk wilayah Jabodetabek.
Jadi, Mana yang Lebih Utama?
Sebenarnya, jawaban atas pertanyaan ini bergantung pada kondisi lingkungan Anda. Jika Anda tinggal di daerah yang masyarakat miskinnya sangat kekurangan bahan pangan, maka memberikan beras jauh lebih utama. Akan tetapi, jika Anda tinggal di perkotaan di mana penerima zakat lebih membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup lainnya, maka zakat uang menjadi pilihan yang sangat bijak.
Selain itu, banyak ulama kontemporer berpendapat bahwa zakat dengan uang sering kali lebih “bermanfaat” di zaman modern. Dengan demikian, Anda tidak perlu ragu jika ingin membayar menggunakan uang, asalkan nominalnya tidak kurang dari harga 2,5 kg beras kualitas terbaik di pasar.
Tips Menunaikan Zakat Fitrah 2026 agar Afdal
Agar zakat Anda sah dan memberikan pahala maksimal, perhatikan tips berikut ini:
Gunakan Beras Terbaik: Jangan memberikan beras yang kualitasnya di bawah beras yang Anda makan sehari-hari.
Segerakan Pembayaran: Manfaatkan layanan zakat online di lembaga terpercaya untuk menghindari antrean panjang atau lupa di hari terakhir.
Periksa Ketentuan Lokal: Baca pengumuman resmi di masjid setempat atau melalui situs Kementerian Agama untuk mengetahui nominal uang zakat yang berlaku di domisili Anda.
Kesimpulan
Akhirnya, baik uang maupun beras, yang paling penting adalah ketulusan niat dan ketepatan waktu pembayaran Anda. Oleh sebab itu, segera tunaikan kewajiban Anda sebelum gema takbir berkumandang.
Semoga Allah SWT memberkahi harta Anda dan menyucikan jiwa kita semua di penghujung Ramadan ini. Selanjutnya, Anda juga bisa membaca fatwa lengkap mengenai zakat ini di laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI).



























