Lebaran Bukan Ajang Pamer: Mengapa Flexing Saat Mudik Itu Norak?
Infaktual.com – Suasana kampung halaman tahun 2026 ini mulai riuh oleh kedatangan para pemudik. Namun, ada sebuah pemandangan yang sering kali merusak kesucian Idulfitri. Fenomena tersebut adalah aksi pamer kekayaan atau flexing di hadapan sanak saudara. Sebab, pamer harta saat lebaran justru menunjukkan kekosongan makna dalam beribadah.
Sebenarnya, sukses di perantauan adalah hal yang sangat membanggakan. Tetapi, merayakan kesuksesan tersebut dengan cara yang berlebihan adalah tindakan yang kurang bijak. Berikut adalah alasan mengapa kita harus berhenti melakukan flexing saat pulang kampung tahun ini.
1. Menyakiti Perasaan Saudara yang Kurang Beruntung
Tidak semua orang di kampung halaman memiliki nasib seberuntung Anda. Oleh karena itu, pamer mobil mewah atau perhiasan berlebihan bisa menimbulkan rasa rendah diri bagi mereka. Maka, silaturahmi yang seharusnya hangat justru berubah menjadi penuh kecanggungan. Dengan demikian, Anda justru menjauhkan hati orang-orang yang Anda cintai.
Baca Juga: Makna Mudik Lebaran 2026: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung
2. Mengaburkan Esensi Kemenangan Spiritual
Idulfitri adalah momen untuk kembali ke fitrah yang suci dan sederhana. Namun, aksi pamer harta justru menonjolkan sifat duniawi yang konsumtif. Sebab, kemenangan sejati terletak pada kebersihan hati, bukan pada merk pakaian yang Anda kenakan. Oleh sebab itu, mari kita kembali fokus pada esensi ibadah daripada sekadar penilaian manusia.
3. Menciptakan Standar Kesuksesan yang Salah
Aksi pamer di desa sering kali menciptakan tekanan sosial yang berat bagi pemuda lainnya. Pasalnya, mereka akan merasa gagal jika tidak bisa pulang dengan membawa kemewahan serupa. Maka, banyak orang akhirnya nekat berutang demi terlihat sukses saat mudik. Akhirnya, budaya pamer ini hanya melahirkan lingkaran setan konsumerisme yang tidak sehat.
4. Kehilangan Keikhlasan dalam Berbagi
Beberapa orang memberi angpao besar hanya untuk mendapatkan pujian dari warga desa. Padahal, sedekah yang paling baik adalah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Jika niat Anda sudah tercampur dengan keinginan untuk pamer, maka pahala ibadah Anda akan terancam hilang. Kementerian Agama selalu mengingatkan kita untuk menjaga niat tulus dalam beramal.
Kesimpulan
Akhirnya, mari kita jadikan Lebaran 1447 H ini sebagai ajang untuk saling merangkul dalam kesederhanaan. Sebab, kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar manfaat kita bagi orang lain. Maka dari itu, simpanlah kemewahan Anda dan keluarkanlah ketulusan hati Anda.
Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena flexing saat mudik? Ayo sampaikan opini Anda pada kolom komentar di bawah ini. Anda juga bisa membaca perspektif sosiologi lainnya di laman LIPI atau NU Online. Selamat Idulfitri dan tetaplah rendah hati!




























