Fenomena selebrasi besar-besaran terhadap siswa yang lolos Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah menjadi ritual tahunan di banyak sekolah. Namun, penting juga untuk mengingat perlunya Hargai Siswa Luar Universitas. Spanduk ucapan selamat dipasang, nama-nama ditampilkan di media sosial sekolah, bahkan dijadikan indikator keberhasilan institusi. Namun, di balik euforia tersebut, terselip pertanyaan mendasar: bagaimana nasib siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi? Apakah mereka kurang berhasil? Ataukah sistem pendidikan kita yang gagal memanusiakan semua jalur kehidupan?
Dalam perspektif pedagogik kritis, pendidikan seharusnya tidak menjadi alat reproduksi ketimpangan sosial, melainkan ruang emansipasi yang membebaskan. Ketika sekolah hanya mengapresiasi siswa yang lolos PTN, secara tidak langsung sekolah sedang membangun narasi tunggal tentang “kesuksesan”. Narasi ini berbahaya, karena mengabaikan keragaman potensi dan realitas sosial-ekonomi peserta didik.
Menurut Pendapat dari Dr. Irfan Dahnial “Tidak semua siswa memiliki privilese untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Faktor ekonomi, tanggung jawab keluarga, hingga pilihan personal sering kali menjadi alasan utama. Dalam kondisi ini, keputusan untuk langsung bekerja bukanlah bentuk kegagalan, melainkan strategi bertahan hidup yang rasional. Namun ironisnya, jalur ini sering tidak mendapat panggung yang layak. Tidak ada baliho untuk siswa yang bekerja membantu orang tua, tidak ada seremoni untuk mereka yang memilih jalur vokasi atau kewirausahaan.”
Dr. Irfan Dahnial juga menambahkan “Sekolah, sebagai institusi pendidikan, seharusnya tidak terjebak dalam logika kapital simbolik semata di mana prestasi diukur dari seberapa banyak siswa diterima di PTN favorit. Sikap ini menunjukkan bias struktural: sekolah lebih menghargai jalur akademik dibandingkan jalur keterampilan atau dunia kerja. Padahal, dunia nyata membutuhkan keduanya secara seimbang.”
Lebih jauh lagi, sikap orang tua juga turut memperkuat konstruksi ini. Banyak orang tua menjadikan kelulusan ke PTN sebagai puncak pengakuan atas keberhasilan anak dan bahkan sebagai legitimasi status sosial keluarga. Tanpa disadari, hal ini menciptakan tekanan psikologis bagi siswa dan mempersempit makna sukses hanya pada satu jalur.
Sebagai penuntup Dr. Irfan Dahnial mengatakan fenomena glorifikasi terhadap siswa yang lolos PTN sejatinya memperlihatkan adanya reduksi makna pendidikan yang semakin sempit dan elitis. Sekolah dan orang tua, secara sadar maupun tidak, telah membangun hierarki keberhasilan yang menempatkan jalur akademik sebagai satu-satunya puncak prestasi, sementara jalur lain terpinggirkan. Padahal, realitas kehidupan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak tunggal, melainkan beragam dan kontekstual. Ketika pendidikan gagal mengakui keragaman ini, maka yang terjadi bukanlah pembebasan, melainkan reproduksi ketimpangan baik secara sosial, ekonomi, maupun psikologis.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma yang lebih mendasar dalam memaknai tujuan pendidikan. Sekolah harus menjadi ruang yang merayakan seluruh potensi dan pilihan hidup siswa, bukan sekadar mesin seleksi menuju perguruan tinggi. Orang tua pun perlu membangun kesadaran bahwa keberhasilan anak tidak ditentukan oleh status institusi, melainkan oleh kemampuan mereka menjalani hidup secara bermakna, mandiri, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan dapat kembali pada hakikatnya: memanusiakan manusia, bukan mengklasifikasikannya berdasarkan satu ukuran sempit bernama PTN.




























