Pelajaran dari Reruntuhan: Mengulas Kerusakan Gedung Tua Manado di Sario
Pakar konstruksi menyebut bahwa wilayah Sulawesi Utara memiliki risiko seismik tinggi, sehingga setiap bangunan publik harus memenuhi standar ketat. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan banyak fasilitas umum yang sudah termakan usia tanpa adanya audit kelaikan struktural secara berkala. Mari kita analisis faktor teknis yang memicu kegagalan struktur pada bangunan legendaris di Kota Manado ini.
Masalah Penuaan Material dan Korosi Baja
Salah satu penyebab utama Kerusakan Gedung Tua Manado adalah proses degradasi material beton dan baja tulangan. Gedung KONI Sario sudah berdiri selama puluhan tahun, di mana paparan kelembapan dan udara laut dapat memicu korosi pada besi di dalam beton. Ketika besi berkarat, volumenya memuai dan mengakibatkan beton di sekitarnya pecah atau mengalami retakan rambut (spalling).
Saat gempa M7,6 terjadi, struktur kanopi yang sudah rapuh tidak lagi memiliki daya ikat yang cukup untuk menahan beban guncangan horisontal. Mengutip laporan dari BeritaManado, bagian depan gedung langsung patah karena sambungan antar-elemen struktural sudah kehilangan integritasnya. Kejadian ini harus menjadi peringatan bagi pengelola gedung lain di Manado untuk segera memeriksa kesehatan beton bangunan mereka.
Baca Juga: Profil Korban KONI: Sosok Lansia yang Menjadi Korban Gempa M7,6 Manado
Kesalahan Desain dan Beban Inersia Gempa
Secara teknis, kanopi beton merupakan elemen bangunan yang memiliki berat jenis sangat besar namun sering kali memiliki tumpuan yang minim. Pada bangunan model lama, desain kanopi sering kali hanya berfungsi sebagai peneduh tanpa memperhitungkan beban inersia saat bumi berguncang hebat. Getaran frekuensi rendah dari gempa Sulawesi Utara memberikan tekanan tarik yang tidak mampu ditahan oleh struktur beton konvensional.
Melansir data dari Detik News, kekuatan guncangan M7,6 memberikan percepatan tanah yang signifikan pada wilayah Manado. Bangunan yang tidak menerapkan prinsip daktilitas (kelenturan) akan cenderung patah seketika daripada mengikuti ayunan gempa. Inilah alasan mengapa Kerusakan Gedung Tua Manado terjadi begitu masif pada bagian-bagian dekoratif gedung yang bersifat kaku.
Baca Juga: Analisis BMKG: Mengapa Peringatan Tsunami Dicabut Setelah 2 Jam?
Urgensi Audit Kelaikan Bangunan Publik (SLF)
Pemerintah Kota Manado kini mendapat desakan untuk mewajibkan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) bagi seluruh gedung perkantoran dan fasilitas umum. Audit ini harus melibatkan ahli struktur independen yang mampu melakukan uji non-destruktif (NDT) pada beton. Polda Sulut melalui rilis MediaHub Polri juga menyarankan penutupan sementara area yang terindikasi memiliki risiko runtuh tinggi.
Kita tidak boleh menunggu jatuh korban jiwa lagi untuk mulai peduli terhadap keamanan struktur. Setiap retakan miring pada kolom bangunan pasca gempa adalah sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan. Masyarakat yang beraktivitas di dalam gedung tua harus selalu waspada dan mengetahui jalur evakuasi tercepat jika sewaktu-waktu terjadi getaran susulan.
Baca Juga: Kesiapan Polda Sulut: Strategi Kamtibmas Pasca Gempa Guna Cegah Kriminalitas
Mitigasi Jangka Panjang: Perkuatan Struktur (Retrofitting)
Bagi gedung-gedung bersejarah atau fasilitas umum yang masih layak dipertahankan, teknik retrofitting atau perkuatan struktur bisa menjadi solusi. Penambahan plat baja atau pembungkusan kolom dengan serat karbon (FRP) dapat meningkatkan kekuatan bangunan menghadapi lindu. Pemerintah melalui BNPB terus mendorong penggunaan teknologi konstruksi tahan gempa bagi daerah-daerah di zona subduksi aktif.
Edukasi mengenai standar bangunan aman harus menjangkau hingga ke pengembang properti skala kecil. Jangan hanya mengejar biaya murah dengan mengurangi spesifikasi besi tulangan yang berisiko fatal di masa depan. Selalulah merujuk pada regulasi dari BMKG terkait zonasi kerawanan gempa guna menentukan desain bangunan yang paling tepat untuk wilayah Sulawesi Utara.
Informasi terbaru mengenai bantuan renovasi gedung terdampak dapat Anda akses melalui Antara News. Mari kita jadikan peristiwa jatuhnya kanopi KONI sebagai momentum untuk membangun Manado yang lebih aman secara infrastruktur. Keselamatan warga adalah investasi terpenting yang tidak boleh kita tawar dengan alasan apa pun.
Kesimpulan: Waspada Bahaya Struktur Bangunan
Keamanan kita saat gempa sangat bergantung pada kekuatan atap yang menaungi kita. Kerusakan Gedung Tua Manado adalah pengingat nyata bahwa pemeliharaan bangunan adalah bagian integral dari mitigasi bencana. Periksa rumah Anda sekarang, laporkan keretakan yang mencurigakan, dan pastikan lingkungan sekitar Anda aman dari potensi reruntuhan material bangunan.
Tetaplah mengikuti arahan pemerintah dan jangan masuk ke dalam gedung yang sudah diberi garis polisi. Dengan kepatuhan dan kesadaran kolektif, kita bisa mengurangi risiko cedera dan kerugian material di masa mendatang.
Baca Juga: Panduan Tas Siaga Bencana: Apa Saja yang Harus Dibawa Warga Sulut?




























