BMKG Catat 111 Gempa Susulan NTT, Terbesar M6,2
INFAKTUAL.COM – Gempa susulan NTT terus terjadi setelah gempa utama magnitudo 7,7 mengguncang kawasan Nagekeo, Flores, Sabtu, 15 Agustus 2026. BMKG Stasiun Geofisika Kupang mencatat 111 gempa susulan hingga pukul 10.00 WITA, dengan aktivitas seismik masih berlangsung setelah pencatatan tersebut.
Mengenai kekuatannya, beberapa gempa susulan mencapai magnitudo 5 hingga 6. BMKG mencatat dua gempa M6,2 pada pagi hari, masing-masing berada di sekitar timur laut Labuan Bajo dan timur laut Mbay-Nagekeo. Selain itu, gempa M5,6, M5,5, serta M5,3 juga terekam setelah guncangan utama.
Namun, angka 111 bukan jumlah akhir seluruh gempa susulan. Data tersebut merupakan rekap hingga pukul 10.00 WITA. Bahkan, laman BMKG masih mencatat gempa M5,0 sekitar 33 kilometer timur laut Mbay-Nagekeo pada pukul 12.45.09 WIB.
Gempa Susulan NTT Capai 111 Kali
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama menyampaikan bahwa hingga pukul 10.00 WITA tercatat total 111 gempa susulan setelah gempa utama M7,7 di Nagekeo. Pada saat laporan tersebut disampaikan, aktivitas seismik masih berlanjut dan salah satu gempa terakhir tercatat bermagnitudo 3,8.
Selain itu, BMKG tetap meminta masyarakat Flores waspada meskipun kecenderungan magnitudo gempa susulan mulai mengecil. Informasi mengenai jumlah aftershock juga terus berubah karena jaringan sensor masih merekam aktivitas di sekitar sumber gempa.
Oleh karena itu, angka 111 harus dibaca bersama keterangan waktu. Jumlah gempa susulan setelah pukul 10.00 WITA dapat bertambah seiring aktivitas seismik yang masih berlangsung.
Dalam Dua Jam Pertama Sudah Terjadi 37 Gempa Susulan
Aktivitas gempa susulan berlangsung cukup intens sejak beberapa jam pertama setelah gempa utama. BMKG sebelumnya mencatat sedikitnya 37 gempa susulan dalam kurun sekitar dua jam setelah guncangan M7,7.
Mengenai perkembangan tersebut, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyatakan aktivitas aftershock akan terus dipantau. Pada pembaruan awal itu, gempa susulan terbesar tercatat M6,2.
Selanjutnya, jumlah tersebut meningkat menjadi 111 kejadian berdasarkan laporan BMKG Stasiun Geofisika Kupang hingga pukul 10.00 WITA. Dengan demikian, peningkatan angka bukan menunjukkan perubahan informasi yang bertentangan, melainkan perbedaan waktu pencatatan.
Gempa Susulan Terbesar Tercatat M6,2
Berdasarkan daftar gempa M5,0 atau lebih BMKG, salah satu gempa susulan kuat terjadi pukul 05.13.53 WIB dengan magnitudo 6,2. Episenternya berada sekitar 46 kilometer timur laut Labuan Bajo, NTT, pada kedalaman 10 kilometer.
Kemudian, gempa M6,2 kembali tercatat pukul 05.28.40 WIB. Gempa tersebut berlokasi sekitar 45 kilometer timur laut Mbay-Nagekeo dengan kedalaman 10 kilometer.
Selain itu, BMKG mencatat M5,5 pada pukul 05.27 WIB di timur laut Ruteng-Manggarai. Selanjutnya, M5,6 terjadi pukul 05.37 WIB di timur laut Labuan Bajo dan M5,3 tercatat pada pukul 05.53 WIB di barat laut Ruteng-Manggarai.
Gempa M5,0 Kembali Tercatat Siang Hari
Aktivitas tidak hanya berlangsung pada beberapa jam pertama. BMKG masih mencatat gempa M5,0 pada pukul 10.54.14 WIB, dengan lokasi sekitar 42 kilometer timur laut Mbay-Nagekeo dan kedalaman 10 kilometer.
Kemudian, pada pukul 12.45.09 WIB, gempa M5,0 kembali tercatat sekitar 33 kilometer timur laut Mbay-Nagekeo. Kedalamannya juga tercatat 10 kilometer dan BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Akibatnya, masyarakat perlu membedakan antara jumlah gempa susulan yang telah direkap dalam konferensi pers dan kejadian yang terekam setelah waktu rekap tersebut.
Mengapa Banyak Gempa Susulan Terjadi?
Gempa susulan merupakan aktivitas seismik yang terjadi setelah gempa utama ketika kerak bumi di sekitar zona patahan menyesuaikan diri terhadap perubahan tegangan.
Dalam kasus Nagekeo, BMKG menyatakan gempa utama M7,7 dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG menjelaskan mekanisme gempa tersebut berkaitan dengan sesar aktif di belakang busur Flores.
Selain itu, BMKG menyebut kawasan tersebut memiliki sejarah gempa signifikan. Aktivitas patahan yang sama menjadi perhatian karena wilayah Nusa Tenggara berada dalam zona tektonik aktif.
Namun, terjadinya banyak gempa susulan tidak berarti waktu maupun besarnya gempa berikutnya dapat dipastikan. Pemantauan instrumen BMKG tetap menjadi dasar untuk melihat perkembangan aktivitas seismik.
Magnitudo Susulan Diharapkan Terus Mengecil
Dalam pembaruan BMKG pada pagi hari, Wijayanto menyampaikan harapan agar magnitudo gempa susulan berikutnya semakin mengecil. Namun, BMKG tetap melakukan pemantauan karena rangkaian aftershock dapat berlangsung dalam periode lebih panjang.
Sementara itu, laporan Stasiun Geofisika Kupang hingga pukul 10.00 WITA menunjukkan salah satu gempa terakhir saat itu berada pada magnitudo 3,8. Meskipun magnitudo secara umum mulai mengecil, masyarakat tetap diminta waspada.
Oleh karena itu, tren penurunan magnitudo tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk mengabaikan kondisi bangunan yang telah rusak atau retak akibat gempa utama.
Gempa Utama M7,7 Berpusat di Laut Nagekeo
Rangkaian gempa susulan NTT terjadi setelah gempa utama pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Hasil analisis BMKG memperbarui parameter gempa menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.
Episenter berada pada koordinat sekitar 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur atau sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo. Gempa tersebut terjadi di laut dan pada awalnya memicu peringatan dini tsunami.
Pembaca dapat mengikuti gambaran lengkap kejadian utama melalui artikel Infaktual mengenai gempa M7,7 Nagekeo NTT dan peringatan tsunami BMKG.
Peringatan Tsunami Telah Berakhir
Meskipun gempa susulan masih berlangsung, peringatan dini tsunami dari gempa utama telah diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB setelah evaluasi data pengamatan muka laut dilakukan.
Dengan demikian, dua informasi tersebut perlu dibedakan. Berakhirnya peringatan tsunami tidak berarti aktivitas gempa susulan ikut berhenti.
Sebaliknya, BMKG tetap meminta masyarakat tenang sekaligus mewaspadai gempa susulan. Pemantauan kegempaan juga terus dilakukan setelah status tsunami dicabut.
Untuk mengetahui wilayah yang sebelumnya menerima status peringatan, pembaca juga dapat melihat artikel pendamping Infaktual mengenai daftar wilayah Siaga dan Waspada tsunami usai gempa M7,7 NTT.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Gempa Susulan?
Mengenai keselamatan pascagempa, masyarakat perlu terlebih dahulu memperhatikan kondisi bangunan. BMKG melalui informasi mitigasinya mengingatkan bahwa bahaya susulan masih mungkin terjadi setelah gempa.
Selain itu, warga sebaiknya menghindari area bangunan yang mengalami kerusakan sampai kondisinya dinilai aman. Informasi kebencanaan juga harus diperoleh dari sumber resmi agar masyarakat tidak mengambil keputusan berdasarkan pesan yang tidak dapat diverifikasi.
Pantau Informasi BMKG Secara Berkala
Perubahan data yang cepat membuat pemantauan informasi resmi sangat penting. BMKG menyediakan laman Gempa Bumi Terkini, Gempa M5,0+, Gempa Dirasakan, serta layanan InaTEWS untuk pemantauan kejadian gempa dan tsunami.
Selain itu, Infaktual sebelumnya membahas cara memantau gempa melalui aplikasi Info BMKG. Artikel tersebut dapat digunakan sebagai referensi tambahan untuk mengenali akses informasi gempa melalui perangkat seluler.
Pembaca juga dapat membuka halaman Mitigasi Bencana Infaktual yang menghimpun berbagai artikel mengenai kesiapsiagaan, gempa bumi, serta informasi BMKG.
Waspadai Informasi Prediksi Gempa yang Tidak Resmi
Selain gempa susulan, isu mengenai prediksi gempa besar juga dapat menyebar ketika masyarakat masih berada dalam kondisi waspada.
BMKG NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menegaskan informasi yang sebelumnya beredar di media sosial mengenai prediksi gempa besar pada tanggal tersebut tidak benar.
Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya membedakan antara pemantauan aktivitas gempa susulan dan klaim yang menyebut waktu kejadian gempa berikutnya secara pasti.
Tentu saja, informasi mengenai magnitudo, koordinat, kedalaman, dan lokasi gempa yang sudah terjadi dapat dianalisis melalui jaringan sensor. Namun, pesan yang mengklaim tanggal atau jam pasti gempa berikutnya perlu diperiksa kembali melalui BMKG.
Jangan Sebarkan Tangkapan Layar Lama
Selain informasi palsu, tangkapan layar lama juga dapat menimbulkan kesalahpahaman. Data gempa berubah cepat sehingga sebuah gambar yang dibuat beberapa jam sebelumnya dapat menunjukkan angka berbeda dari kondisi terbaru.
Sebagai contoh, BMKG mencatat 37 gempa susulan pada sekitar dua jam pertama. Kemudian, jumlah yang dilaporkan hingga pukul 10.00 WITA meningkat menjadi 111 kejadian.
Karena itu, tanggal dan waktu pembaruan harus selalu dicantumkan ketika membagikan informasi gempa susulan NTT.
Ringkasan Gempa Susulan NTT
Berdasarkan pembaruan yang telah diverifikasi, rangkaian gempa pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dapat dirangkum sebagai berikut:
- 04.58 WIB: gempa utama M7,7 mengguncang kawasan Nagekeo.
- 05.13 WIB: M6,2 terjadi sekitar 46 km timur laut Labuan Bajo.
- 05.27 WIB: M5,5 tercatat di timur laut Ruteng.
- 05.28 WIB: M6,2 terjadi sekitar 45 km timur laut Mbay-Nagekeo.
- 05.37 WIB: M5,6 terjadi di timur laut Labuan Bajo.
- 05.53 WIB: M5,3 tercatat di barat laut Ruteng.
- Hingga 10.00 WITA: BMKG mencatat 111 gempa susulan.
- 10.54 WIB: M5,0 tercatat di timur laut Mbay-Nagekeo.
- 12.45 WIB: M5,0 kembali tercatat sekitar 33 km timur laut Mbay-Nagekeo.
Dengan demikian, 111 merupakan jumlah gempa susulan hingga pukul 10.00 WITA, bukan angka final untuk keseluruhan rangkaian gempa pada hari tersebut.
Warga Flores Tetap Diminta Waspada
Pada akhirnya, aktivitas gempa susulan NTT menunjukkan bahwa proses penyesuaian tektonik di sekitar sumber gempa masih berlangsung. BMKG Stasiun Geofisika Kupang mencatat 111 kejadian hingga pukul 10.00 WITA dan pada saat itu aktivitas susulan belum berhenti.
Selain itu, catatan gempa M5,0 di timur laut Mbay-Nagekeo pada pukul 12.45 WIB memperlihatkan bahwa gempa dengan magnitudo cukup signifikan masih terekam beberapa jam setelah rekap 111 kejadian dibuat.
Namun, peringatan tsunami dari gempa utama telah dinyatakan berakhir. Fokus masyarakat selanjutnya adalah menjaga kewaspadaan terhadap gempa susulan, kondisi bangunan, dan informasi yang beredar.
Masyarakat juga dapat membaca panduan mitigasi Gempa Bitung dari Infaktual sebagai referensi tambahan mengenai kesiapsiagaan menghadapi aktivitas seismik.
Sumber dan Referensi
Sumber eksternal:
- BMKG – Data Gempa Bumi Magnitudo 5,0+
- BMKG – Siaran Pers Gempa M7,7 Flores dan Peringatan Tsunami
- BMKG – Peringatan Dini Tsunami Gempa M7,7 NTT Berakhir
- ANTARA – BMKG Catat 111 Gempa Susulan di Utara Flores
- Metro TV News – BMKG Catat 111 Kali Gempa Susulan
- Metro TV News – BMKG Catat 37 Gempa Susulan dalam Dua Jam
Internal link Infaktual:













